Berita di media sosial sering merekomendasikan konsumsi vitamin C, D, E, propolis, madu, dan zinc untuk “meningkatkan sistem kekebalan tubuh,” tetapi ini sebenarnya tidak berdasar, meskipun banyak orang mempercayainya.
Saat seseorang terinfeksi COVID-19 dan menjalani isolasi mandiri di rumah, seringkali timbul kepanikan besar, bahkan oleh dokter yang menyarankan bukan hanya vitamin, tetapi juga berbagai perawatan seperti kumur dengan betahistidine (yang tidak berguna), penggunaan Oseltamivir (obat anti-influenza yang tidak efektif), favipiravir (obat antivirus yang tidak efektif untuk COVID-19), acetylcysteine untuk batuk (tidak efektif), pantoprazol untuk mual (obat penghambat asam lambung), azithromycin (antibiotik yang tidak bekerja melawan virus), dan lain-lain. Informasi ini saya peroleh dari keponakan istri saya yang terinfeksi COVID-19 di Jakarta. Beruntung, setelah satu minggu sembuh tanpa menggunakan obat-obatan tersebut atas saran saya.
Obat steroid dexamethasone juga sangat populer, padahal sebenarnya hanya terbukti mengurangi risiko kematian pada pasien COVID-19 yang membutuhkan oksigen, terutama yang menggunakan ventilator. Namun, banyak orang, terutama di India, yang mengonsumsi dexamethasone secara sembarangan saat terpapar COVID-19, yang kemudian menyebabkan sistem kekebalan tubuh mereka terganggu dan berisiko terkena infeksi jamur hitam yang sulit diobati. Akibatnya, ada yang harus menjalani operasi pengangkatan mata atau bahkan meninggal.
https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2021436