Beberapa tahun lalu, saya sering diundang untuk melihat pitching atau expo fintech. Tujuannya adalah untuk mengamati, meniru, dan memodifikasi model bisnis yang ada, atau jika memungkinkan, langsung mengajukan kerja sama, entah dalam bentuk investasi atau kemitraan.
Sekitar 2017–2018, model bisnis yang paling populer adalah P2P Lending, jauh sebelum BNPL (Buy Now Pay Later) menjadi tren.
Setiap presentasi selalu mempromosikan narasi yang sama:
“Menolong masyarakat yang tidak bankable dan melindungi mereka dari rentenir.”
Terdengar mulia, bukan? Sebagai warga Tambun Selatan dengan ibu yang kader koperasi, saya tahu betul betapa jahatnya rentenir. Dulu, di desa sekitar akhir 90an hingga awal 2000an, rentenir sering kali hanya duduk dan meminjamkan uang dengan bunga yang sangat tinggi, namun tetap kaya. Mereka seringkali disumpahi. Karena itu, ibu dan teman-temannya mendirikan koperasi simpan pinjam untuk menangani masalah ini, meskipun sempat diserang oleh ormas yang menganggap koperasi simpan pinjam itu haram. Kami acuhkan ormas tersebut, karena jika koperasi bubar, orang akan terpaksa kembali ke rentenir.
Di masa itu, rentenir adalah salah satu profesi yang paling dicap negatif, selain anak durhaka yang konon berubah menjadi ikan pari. Saya selalu mendukung ide untuk membantu orang-orang yang tidak bankable agar terhindar dari rentenir. Seiring waktu, saya pindah ke sub industri yang berbeda (masih di sektor keuangan, tetapi bukan di lending) dan sangat terkejut. Terkejut karena kasus bunuh diri akibat pinjaman online tampaknya semakin sering terjadi setiap bulan, dan itu hanya yang terdeteksi.
Saya mencoba mengingat kembali pitching mereka beberapa tahun lalu, terutama terkait dengan return yang diterima investor P2P lending dan laporannya yang membuat mata melotot karena return yang cepat.
Saya merasa sangat bodoh. Ternyata, return yang tidak masuk akal ini disebabkan oleh fakta bahwa fintech ini mirip dengan rentenir, dan satu-satunya alasan model P2P Lending bertahan adalah karena model bisnisnya yang sangat jelas—merugikan peminjam.
Bayangkan, salah satu platform menawarkan bunga tahunan 25% untuk investor. Artinya, jika Anda meminjamkan 100 juta, tahun depan Anda akan memiliki 125 juta. Hebatnya, return ini lebih tinggi dibandingkan saham.
Pertanyaan besar adalah:
“Jika investor mendapatkan 25%, berapa yang mereka kenakan kepada customer?”
Saya kemudian menghubungi seorang kolega yang kini bekerja di sana.
Echa: “Mas, mau tanya, bunga pinjaman di *sensor* berapa persen?”
Mas: “Loh, ada keperluan?”
Echa: “Enggak, cuma penasaran saja.”
Mas: “Sebagai gambaran, kalau Anda meminjam 1 juta, harus dikembalikan 1,45 juta dalam waktu 2 bulan.”
Echa: “Tunggu, maksudnya hampir 0,7% per hari?”
Mas: “Secara teknis sekitar 0,5% per hari, tapi ada biaya administrasi lainnya.”
Echa: “Oke, berapa tepatnya? 0,5% itu bisa saja 0,59.”
Mas: “0,555%.”
Echa: “OJK benar-benar mengizinkan segitu?”
Mas: “Secara teknis, OJK hanya mengizinkan 0,4%. Tapi selalu ada biaya administrasi tambahan. Kami sering mengiklankan bunga tenor terpanjang, sekitar 0,1%, dengan jangka waktu 1 tahun. Sama seperti dulu menjual bunga KPR 7% yang sebenarnya bisa mencapai 14% tahun depan.”
Echa: “Tapi, saya tidak pernah membiarkan nasabah mengajukan pinjaman hanya dengan selfie KTP.”
Saya tertegun.
Bagian kredit bank Buku 4:
Mau tahu seberapa gila 0,555% per hari? Itu sekitar 202% setahun. Jika Anda meminjam 100 juta, Anda akan mendapatkan 304 juta sebagai return plus modal. Kecuali Anda terlibat dalam permainan bandar, sulit untuk menemukan investasi dengan return sebesar ini.
Segalanya menjadi jelas tiba-tiba.
Kemudian, saya melihat tweet ini:
Saya penasaran dengan iklan lainnya.
Iklan 1:
Mba-mba: “Boleh pinjam handphone kamu?”
Mas-mas: “*memberikan handphone*”
Mas-mas: “Apa ini? *muka kaget*”
Mba-mba: “Itu limit pinjaman kamu.”
Wow, ini sudah level toxic. Teman yang tidak melakukan apa-apa didaftarkan untuk pinjol, ini benar-benar tingkat kelakuan setan. Apakah mereka tidak tahu bunga pinjol sangat tinggi?
Iklan 2:
Mas-mas: “Pilih TV yang kamu mau, sayang.”
Mba-mba pacar: “*memilih TV*”
Mas-mas: “Saya ambil yang ini ya, mba.”
Mas-mas mengecek m-banking dan hanya memiliki 100 ribu. Lalu dia membayar TV menggunakan pinjaman online.
Mba-mba pacar: “Sayang, cek limit aku dong *dengan manja*.”
Mba-mba TV: “Iya, saya juga dong, mas.”
IQ saya langsung turun ke 35 setelah menonton iklan ini.
Iklan 3:
Ada cowok yang dicari rentenir. Kemudian cewek random datang dan mengatakan bahwa utangnya sudah dibayar dengan utang dari *tuuut*.
Oh my god. Akal sehat saya sebagai orang yang berpendidikan dan bekerja di keuangan langsung berpikir:
“Nih perusahaan benar-benar menggunakan metode gali lobang tutup lobang?”
Mungkin model bisnis mereka memanfaatkan orang-orang yang sangat desperate hingga tidak bisa berpikir jernih. Saya cek profil perusahaan, dan mereka dengan berani menulis:
“Memberikan akses keuangan yang mudah kepada masyarakat untuk mewujudkan mimpi mereka.”
Bagaimana mungkin orang bisa mencapai mimpi mereka jika harus menghadapi bunga yang tidak masuk akal? Saya akhirnya mengerti mengapa teman saya tidak mau terlibat dalam proyek keuangan seperti ini. Semua menjadi jelas. Banyak orang yang terjerat pinjaman online, banyak yang stres, bahkan banyak yang mengakhiri hidup mereka karena tidak mampu menghadapi tekanan.
Bagian paling gila adalah mereka mengeluarkan banyak uang untuk iklan. Buka handphone Xiaomi, ada iklan pinjol. Buka YouTube, ada pinjol. Buka Facebook, ada pinjol. Main game gratis, ada pinjol. Jangan-jangan, suatu hari nanti jika ada anak yang tidak bisa membayar sekolah, ibunya disuruh mendaftar pinjol. Bahkan membeli iPhone bisa disarankan untuk dicicil menggunakan pinjol, padahal cicilannya bisa berlangsung hingga 5 tahun, sementara handphone sudah tidak layak pakai. Gila.
Mungkin ini menjadi pengingat bagi kita untuk menghargai orang-orang terdekat yang meminjamkan uang dengan membayarnya tepat waktu. Membangun kepercayaan. Banyak orang akhirnya enggan meminjamkan uang karena pengalaman buruk, dan itu merugikan masyarakat. Semakin banyak orang yang enggan meminjamkan uang, semakin besar peluang rentenir untuk berkembang. Mungkin dengan tidak membayar utang ke orang lain, kita menyebabkan banyak orang menderita karena pemberi utang berhenti memberikan pinjaman. Padahal, tidak semua orang buruk. Salah satu iklan pinjol bahkan menyuruh Anda untuk meminjam secara online daripada meminjam dari keluarga atau orang terdekat.
Mungkin ini juga menjadi pengingat bagi kita. Ketika kita berinvestasi di P2P Lending, setiap ada notifikasi NPL pada tanggal jatuh tempo, itu berarti ada seseorang yang mungkin mengakhiri hidupnya karena tekanan utang.
Oh, dan untuk yang berpikir untuk gagal bayar pinjol dengan menggunakan jasa joki, tolong jangan. Itu juga penipuan. Teman saya pernah bercerita tentang kasus di mana peminjam bertanya mengapa utangnya masih ada padahal sudah membayar jasa hapus data pinjaman. Oh my god. Setelah terjerat pinjol dengan bunga tidak masuk akal, ditambah dengan penipuan jasa hapus data pinjaman, sudah jatuh tertimpa tangga. Ini benar-benar seperti family gathering para setan.
Bagian kredit kartu/ritel setelah membaca ini, apakah tidak merasa seperti malaikat dibandingkan dengan fintech yang sangat “baik hati” ini?