Apakah perasaan benci terhadap orang tua itu benar-benar ada, atau hanya sekadar ketidaksukaan?
Menurut saya, benci terhadap orang tua mungkin tidak sepenuhnya tepat. Kita dilahirkan ke dunia ini dan dibesarkan oleh mereka, dan ada banyak hal yang telah mereka lakukan untuk kita sejak kecil.
Namun, sebagai manusia, kita tentu mengalami berbagai macam emosi, seperti sedih, senang, marah, dan sebagainya. Emosi ini bisa timbul dari berbagai sumber, termasuk dari interaksi dengan orang tua. Apakah perasaan ini harus dipendam selamanya? Saya rasa tidak.
Seiring berjalannya waktu, kita mungkin menemukan banyak perbedaan karakter dan prinsip dengan orang tua kita yang dapat menyebabkan ketegangan. Namun, mereka tetap manusia biasa yang bisa membuat kesalahan. Emosi bersifat sementara dan dapat berubah sesuai kondisi. Dengan memahami bahwa orang tua juga manusia, kita dapat meminimalkan rasa kecewa dan menerima mereka apa adanya.
Cara terbaik untuk menangani perasaan ini adalah dengan berkomunikasi dan mendiskusikan masalah yang ada untuk menghindari konflik. Jika orang tua masih mau mendengarkan, itu adalah kesempatan untuk berdialog.
Namun, jika orang tua menunjukkan sikap yang sangat keras kepala atau melanggar norma sosial dan agama, maka berdoa bisa menjadi cara untuk meredakan amarah dan benci. Kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, dan mereka juga tidak pernah membayangkan melahirkan kita dengan cara tertentu.
Jadi, lakukan peran kita sebagai anak dengan sebaik-baiknya sesuai ajaran agama, dan beri ruang untuk menerima orang tua kita sepenuhnya. Tugas kita adalah berbakti, dan biarkan urusan negatif menjadi tanggung jawab Tuhan.