Kaget! Saya dulu juara 1 angkatan, nilai selalu stabil atau naik dan selalu di angka 90 keatas, pernah menjadi ketua osis dan menang lomba tingkat nasional hingga internasional. Rasanya kayak secara paper tidak ada yang kurang, tapi tetap saja ditolak di SNMPTN. Dari ini saya melihat trend yang diterima di SNMPTN dan memang walaupun secara statistik yang memiliki nilai bagus dan dari sekolah favorit memang memiliki kesempatan lebih tinggi untuk diterima, namun banyak juga yang random dan ga tentu alasannya apa. Mungkin tiap universitas dan jurusan punya parameter nya masing-masing hingga ga bisa ditebak, jadi luck sangat berpengaruh disini.
Tahap kedua adalah sedih dan sedikit malu. Rasanya semua orang punya ekspetasi besar ke saya — dan rasanya “tidak mungkin” tidak diterima. Tapi ternyata ditolak secara mentah-mentah dengan warna merah — warna cinta. Malu sekali saat itu ketika ditanya semua orang hasilnya apa, dan orang-orang yang tidak memiliki prestasi sebanyak saya diterima tetapi saya tidak. Ada sedikit perasaan bahwa segala sesuatu yang saya lakukan di masa SMA tidak berguna sama sekali, karena saya tidak cukup di apresiasi. Beberapa orang tua murid bahkan rumornya “gibahin” saya, tidak tau gibahin saya karena kasihan atau seperti apa, tapi yang jelas tidak nyaman.
Tahap ketiga, saya menyadari bahwa semua ini memiliki hikmahnya. Dari sini, saya belajar bahwa saya tidak bisa mencapai semua yang saya impikan, yang bisa saya lakukan hanyalah berusaha dan menyerahkan diri kepada Tuhan YME. Yang penting, saya sudah berusaha sebaik mungkin. Saya juga menyadari bahwa nilai saya tidak ditentukan oleh hasil merah atau biru semata, tetapi oleh keterampilan yang saya miliki, hubungan yang saya bangun, dan pengetahuan yang saya peroleh. Saya percaya bahwa selama ini saya telah mengumpulkan pengetahuan yang akan tetap bersama saya, di mana pun saya berada, dan tidak peduli hasil apa pun yang Tuhan berikan kepada saya.
Tahap keempat, bangkit! Karena saya percaya pada diri saya sendiri bahwa saya memiliki nilai dan SNMPTN tidak menentukan siapa saya, saya tidak ragu untuk mendaftar di universitas Ivy League dan universitas top 100 dunia lainnya (yang jelas di atas universitas yang menolak saya di SNMPTN). Beberapa ditolak, tapi siapa sangka saya diterima di 90% universitas yang saya daftar, dan akhirnya saya mendapatkan beasiswa penuh. Inti dari pengalaman ini bukanlah bahwa saya “lebih baik” dari orang-orang di SNMPTN dan SNMPTN adalah kesalahan, melainkan bahwa ketika saya ditolak dan diremehkan, itu bukan berarti saya sesuai dengan definisi mereka, melainkan itu bukan tempat yang tepat untuk saya. Akan selalu ada tempat yang menerima saya, dunia ini cukup luas untuk saya menentukan nilai saya dari hasil SNMPTN yang memiliki banyak variabel. Ketika satu pintu tertutup, 9999 pintu lainnya akan terbuka, dan tugas kita ketika ditolak SNMPTN adalah mencari pintu yang lain.
Mungkin akan memakan waktu, tenaga, dan mentalitas yang tidak enak, tapi pada akhirnya, itu akan sepadan.