Ini adalah salah kaprah. Maaf ya, saya harus menunjukkan kemampuan saya. Skor TOEFL saya di atas 550, dan saya sudah bekerja selama lebih dari 2 tahun dengan orang-orang yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Sampai tahun 2020, jawaban saya dalam menjawab pertanyaan lebih banyak memakai Bahasa Inggris daripada dalam Bahasa Indonesia.
Dan tahu apa? Saya menggunakan Google Translate setiap hari. Terbukti sangat baik, terutama ketika saya harus menulis dokumen-dokumen panjang seperti proposal teknis, dokumentasi perangkat lunak, dan tulisan teknis lainnya.
Saya menggunakan Google Translate baik dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, maupun sebaliknya. Belum pernah ada klien yang mengeluh kepada saya, “Fikri, presentasimu kok tata bahasanya aneh ya?”
Ada dua hal yang mungkin menjadi masalah bagi TS: “Garbage in-garbage out” dan “Proofreading”.
Garbage in-garbage out. Saya tidak tahu bagaimana kondisi di bidang STEM lainnya, tetapi yang pasti di bidang penerbangan ini sudah menjadi jargon sehari-hari. Mengapa kita harus menghitung berbagai macam integral dengan kompleksitasnya yang tiga lapis, dan rumus-rumus yang lebih banyak menggunakan huruf Yunani daripada angka, dan semua aturan harus diperiksa menggunakan tabel properti gas yang tebalnya segepok-gepok.
Padahal sekarang sudah ada MATLAB, Datcom, AAA, CFD, FEM, dan lain-lain. Selalu yang dikatakan oleh dosen, apa pun mata kuliahnya, “sampah masuk-sampah keluar.” Aplikasi sehebat apapun, jika dimasukkan sampah, yang keluar juga akan menjadi sampah.
Tidak terkecuali Google Translate. Google Translate sudah se-“natural language” itu, dan terus berkembang seiring dengan semakin banyaknya pengguna. Tahukah kamu bahwa Google Translate tidak selalu memberikan terjemahan yang sama persis, melainkan:
(1.) Untuk kalimat panjang dan rumit, ia memberikan beberapa variasi terjemahan yang bisa kita pilih.
(2.) Kita juga bisa mencampur dan mencocokkan frasa per frasa. Misalnya, frasa pertama kita ambil dari variasi pertama, frasa kedua dari variasi kedua, dan seterusnya.
Umumnya yang bikin Google Translate output-nya garbage adalah karena inputnya garbage juga. Misalnya:
(1.) Ketika mencoba menerjemahkan idiom, tidak semua idiom itu terdengar alami. Ada idiom yang pendek dan alami, pasti Google Translate bisa menerjemahkannya. Tapi untuk idiom yang panjang, Google Translate tidak akan menerjemahkan “killing two birds with one stone” menjadi “sambil menyelam dua tiga pulau terlampaui”. Sebaliknya, Google Translate tidak akan menerjemahkan idiom kita dan mencari padanan dalam bahasa Inggris. Di Bahasa Indonesia, majas memiliki tempatnya sendiri. Jika kita masih belum sepenuhnya memahami satu bahasa secara alami, mengapa Google Translate harus melakukannya? Google Translate adalah alat, bukan guru. Alat ini digunakan, bukan untuk belajar. Sama persis seperti kuliah penerbangan, kan? Garbage in-garbage out.
(2.) Ketika mencoba menerjemahkan nama, istilah, atau merek, Google Translate mampu membedakan mana yang merupakan istilah dan mana yang merupakan objek sebenarnya. Misalnya, Google Translate tidak akan menerjemahkan “FB” menjadi “muka buku”, itu sudah termasuk kemampuan yang canggih. Tapi pada akhirnya, jika input yang diberikan kurang tepat, maka output-nya juga akan menjadi tidak akurat.
Menurut pendapat kalian, apakah ini salah GT? Bayangkan jika GT digantikan oleh seseorang yang tidak kalian jelaskan konteks skrip filmnya, dia akan melakukan hal yang sama. Ingatlah bahwa GT hanyalah alat, konteksnya terbatas pada apa yang kalian masukkan, dia tidak peduli apakah itu tokoh film atau bukan.
Proofreading. Kalau kamu membuka log jawaban lain yang memiliki badge pena bulu, hampir semuanya pasti banyak yang diedit. Bahkan saya bisa mengetahui mana jawaban yang telah diedit berulang kali dan mana yang tidak.
Biasanya yang rapih, tidak ada kesalahan penulisan, paragrafnya tidak tumpang tindih, tanda baca yang benar, dan sebagainya, itu adalah hasil dari banyak pengeditan.
Tapi yang tidak diedit pasti membuat mata sakit. Bahkan saya merasa kehilangan fitur saran edit yang sekarang tidak selalu (atau bahkan tidak pernah) muncul. Karena saya sering mengedit jawaban orang lain yang memiliki poin bagus tapi formatnya kurang rapi.
Penulis yang berkualitas, pasti memiliki proofreader yang berkualitas juga. Bahkan dulu ketika saya menjadi kepala divisi kajian strategis di unit kampus, saya selalu memiliki seseorang yang tugasnya hanya melakukan proofreading saja.
Begini poinnya. Ketika kita menulis dalam satu bahasa saja, kita harus melakukan proofreading dengan cermat. Bagaimana dengan konten terjemahan? Orang yang merasa bahwa tata bahasa Google Translate tidak bagus, bisa dipastikan bahwa dia baru pertama kali mendengar istilah proofreading.
Dari pengalaman saya dalam membuat proposal teknis, dokumentasi perangkat lunak, dan penulisan teknis lainnya, bisakah kalian menebak apakah hasil proofreading dari Google Translate lebih banyak atau lebih sedikit?
Jawabannya: SAMA. Jika saya mengedit satu bahasa seperti itu, jika menggunakan GT maka saya akan mengeditnya seperti itu juga. Selain membuktikan bahwa kualitas GT tergantung pada kemampuan kita dalam melakukan proofreading, ini juga semakin membuktikan bahwa hasil yang buruk akan keluar jika inputnya juga buruk. Jika saya harus mengedit dan melakukan proofread pada hasil GT, itu karena naskah aslinya juga membutuhkan pengeditan dan proofreading seperti itu. GT ini sangat sensitif. Itulah mengapa ketika saya menerjemahkan apa pun, saya harus memperhatikan bahkan huruf besar dan kecilnya. Jika Grace tadi berada di tengah kalimat, dia tidak akan menjadi Rahmat jika huruf G-nya kapital. Tetapi karena orang yang menerjemahkannya tidak sempurna, hanya ada huruf S yaitu Grace, dia tidak mengerti bahwa itu adalah sebuah nama karena huruf awalnya memang kapital.
Garbage in-garbage out. Udah persis sama software-software buat engineering kan? Dimasukin sama yang gak paham ya output-nya juga gak berarti
“Tapi berarti GT punya kekurangan dong: gak bisa proofread.”
Kalau ingin melakukan proofread, gunakanlah Grammarly. Atau berdoalah agar Grammarly segera diakuisisi oleh Alphabet agar bisa berjalan dengan baik bersama GT. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah melakukan proofread pada Bahasa Indonesia, karena saya belum pernah menggunakan aplikasi proofread untuk Bahasa Indonesia. Bagi yang ingin membuat startup, silakan dapatkan ide dari sini.
Jadi, mengapa perusahaan sebesar Google belum mampu menciptakan aplikasi terjemahan yang akurat? Apakah mereka hanya tidak berusaha dengan sungguh-sungguh?
- Google Translate merupakan sebuah alat yang tidak terlepas dari prinsip garbage in-garbage out.
- Jangan menyalahkan Google Translate jika Anda tidak mampu melakukan proofreading. Jika Anda kesulitan dalam proofreading, Google Translate tidak akan membantu. Namun, Grammarly mungkin bisa membantu.