Bertanya adalah jalan menuju pengetahuan spiritual. Orang yang menggunakan jalan ini untuk mendapatkan pengetahuan spiritual akan bertanya pertanyaan yang cerdas dan tajam tentang bagaimana Tuhan terjadi. Semakin banyak pertanyaan yang diajukan, semakin dalam jawabannya, yang akan membawa mereka ke pertanyaan yang lebih dalam. Kita tidak akan mengalami kemandulan intelektual dan spiritual jika kita terus menantang kesimpulan kita dan memperluas pengetahuan kita tentang Tuhan.
Bersamaan dengan itu, tindakan kita untuk senantiasa bertanya akan menjaga kita tetap terlibat dan terbenam dalam ibadah abadi. Kita terbiasa untuk beribadah kepada Tuhan dengan mempercayai kesimpulan orang lain, tapi pendekatan semacam ini akan membangun penghalang bagi pertumbuhan intelektual dan spiritual. Individu individu yang menerima tanpa mempertanyakan kepercayaan warisan tentang Tuhan pada akhirnya akan memegang pandangan sempit tentang diri mereka sendiri, kemanusiaan dan dunia alam. Sebagian orang lain menantang kepercayaan warisan mereka, lalu dengan terburu buru menerima kesimpulan seorang guru yang jawabannya terhadap pertanyaan spiritual bersifat lebih universal, pengetahuannya lebih luas; tapi jika kita tidak menguji sendiri jawaban ini, kita sebagai penyembah tidak akan dapat mengalami semua itu secara pribadi.
Dalam kedua sikap itu, penerimaan terhadap ajaran orang lain menghambat kemajuan. Beribadah dengan bertanya membuat kita terus menerus mendapat penerangan tentang langkah maju berikutnya. Sementara bertanya mengenai Tuhan, orang mengalami perkembangan karena ia mendapat pengetahuan yang membebaskan melalui penyelidikan pribadi. Dan semakin banyak pertanyaan yang ia ajukan semakin inklusif perspektifnya, karena dengan bertanya penghalang yang ditimbulkan oleh kepercayaan disingkirkan. Setiap kali si penanya berhasil memadukan jawaban yang lebih beradab ke dalam dirinya, ia mengembangkan dan memperluas bukan hanya gagasannya tentang Tuhan, tapi juga pemahaman dan penghayatannya tentang dirinya sendiri. Jawaban yang lebih beradab selangkah demi selangkah memperluas identitas spiritual kita melalui kebebasan spiritual dan intelektual yang ditimbulkannya.
Jika orang mengajukan pertanyaan pertanyaan tentang kodrat Tuhan, ia berada di suatu jalan penyelidikan ilmiah. Sama seperti para ilmuwan material menyelidiki alam semesta fisik, begitu juga para peneliti dunia spiritual yang berusaha memahami Tuhan mulai dengan menyelidiki kawasan batin pemikiran. Dalam kedua penyelidikan ini, jawaban jawaban yang cepat dan kaku menindas pemikiran yang bebas, karena itu, baik peneliti spiritual maupun peneliti material, karena didorong oleh pertanyaan-pertanyaan, mempertanyakan bahkan meragukan jawaban jawaban mereka sendiri. Ternyata bertanya itu bukan hanya suatu metode yang dapat dipercaya dalam menyelidiki kodrat Tuhan, tapi juga sebagai penyembuh yang kuat dan ampuh bagi suatu pemikiran yang dibanjiri kebenaran kebenaran yang sudah diterima, yang diteruskan selama berabad abad oleh agama terorganisir. Meskipun menyingkirkan pandangan pandangan lama tersebut dapat tidak menyenangkan, ini membuat pemikiran kita tetap bebas untuk memakai kemampuannya dan membuat mata kita bebas dari belenggu keyakinan yang diwariskan.
Beberapa otoritas keagamaan masih menggunakan kata-kata evokatif seperti bidah, setan, dan maya untuk merongrong kecenderungan bertanya dalam diri manusia. Mereka terus menerus memanfaatkan dan memperbesar rasa tidak aman yang menghinggapi individu individu ketika pandangan mereka bertabrakan dengan keyakinan kelompok. Mereka cenderung membawa kita ke satu jawaban saja, sementara orang yang terus melakukan penyelidikan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah muncul sepanjang kehidupan mereka dan hanya sedikit berminat membereskan semua pertanyaan dengan mengajukan hanya sebuah jawaban secara mudah. Iman yang didasarkan pada dogma keagamaan seringkali memuliakan perkara perkara yang berkaitan dengan tujuan akhir kehidupan saja, dan hal ini sering kali menghasilkan sikap hidup yang merendahkan kehidupan manusia masa kini dan sangat bergantung kepada kehidupan setelah kematian yang dianggap akan diterima manusia pada akhir kehidupannya di dunia ini, sementara penyelidikan spiritual merayakan perjalanan kehidupan ini dalam dunia ini. Apabila kita teliti lebih dalam penafsiran terhadap kitab kitab, ditemukan kecenderungan kata-kata atau ungkapan yang mengatakan lebih banyak tentang diri si penafsir ketimbang kitab kitabnya sendiri. Untuk mengurangi kemungkinan orang memproyeksikan secara mekanik maksud pribadinya ke dalam suatu tulisan suci, penting untuk membaca tulisan itu dengan mata yang tajam dan peka dan mengkaji konteks sejarah yang didalamnya karya itu ditulis.
Jika kita mau mengumpulkan sedikit demi sedikit pengetahuan mengenai Tuhan, kita dapat belajar lebih banyak jika kita memperhatikan kebiasaan seekor burung ketimbang kita dengan membuta menerima informasi yang diberikan sekaligus oleh teks teks, para penganut, dan otoritas keagamaan. Nilai dari penyelidikan mengenai Tuhan di dalam kawasan agama terorganisir lebih berkaitan dengan usaha menjernihkan dan memusatkan pikiran sebagai instrumen penyelidikan ketimbang dengan usaha mendapatkan pengetahuan langsung mengenai Tuhan.
Kalau kita merangsang kemampuan nalar dan intuisi untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mungkin bagi kita untuk mengananlisis tafsiran terbatas mengenai Tuhan dan mengurai kebenaran yang diterima. Ketika semua tafsiran dan kebenaran ini runtuh, dan si penyelidik membawa pertanyaan “Apakah Tuhan itu?” ke gelanggang yang lebih terbuka, maka pemahaman pemahaman yang lebih jauh menanti untuk ditemukan olehnya. Jawaban atas pertanyaan itu menimbulkan pertanyaan pertanyaan lebih lanjut. Atau pikiran dapat menekan sebuah jawaban yang menarik tapi tidak lengkap, tapi kemudian akan menemukan sebuah jawaban yang lebih lengkap dalam sebuah pemikiran atau kejadian. Atau bisa jadi pertanyaan itu lebih menyingkap pengondisian pikiran ketimbang jawaban konklusif apapun. Hasil pertanyaan pertanyaan kolektif kita mengenai Tuhan sangat besar.
Dengan makin banyaknya jumlah orang yang berjuang untuk memasukkan semua kemanusiaan ke dalam persepsi spiritual mereka tentang diri mereka sendiri, semakin sedikit orang dapat menyimpangkan peribadahan kepada Tuhan menjadi gerakan keagamaan yang berisi kekerasan dan melawan orang orang yang berbeda latar belakang. Dengan semakin banyak waktu berlalu, setiap orang yang direndahkan dan dipermiskin oleh kepercayaan orang lainnya akan merupakan penghinaan bagi kita semua. Dewasa ini, ketika jutaan orang menderita kelaparan secara fisik, emosional, intelektual, dan spiritual, bertanya tentang Tuhan dapat mengubah pemikiran kita secara lebih peka terhadap dogma, takhayul, dan keterpecah belahan inilah musuh musuh kemanusiaan yang sebenarnya. Pikiran pikiran yang diubah menuntun kita kepada tindakan tindakan yang diubah. Ketika kita tidak lagi terikat pada tafsiran tentang hal hal ajaib yang dalam sejarah telah digunakan untuk mengilahikan bukan saja agama tapi juga bangsa, kasta, etnisitas, orang perorangan, dan bahasa yang digunakan dalam doa– kita dapat mulai bertindak dengan penuh penghargaan kepada semua saudara kita di seluruh dunia.
Demikianlah pada setiap saat kita menyaksikan suatu peristiwa yang tampak ajaib, kita akan mengetahui ini bukanlah Tuhan yang melanggar hukum alam untuk membuktikan eksistensinya, melainkan pikiran pikiran kita sendiri yang mendesak kita untuk bertindak membangun suatu dunia yang lebih baik.