Meskipun kami tinggal di daerah di mana orang Tionghoa sangat sedikit, keluarga saya selalu suka makan di restoran Tionghoa.
Saya melihat orang Tionghoa mencari peluang. Misalnya, ada banyak restoran mie ayam di tempat itu, tetapi orang tertentu ingin mie ayam dengan banyak ayam atau pangsit. Mereka memenuhi keinginan ini dengan menambah pangsit dan porsi ayam (dijual dengan harga tinggi), membuat mereka menonjol dan lebih unggul dari restoran lain karena menawarkan sesuatu yang berbeda.
Contoh kedua banyak orang menggemari pangsit cita rasa buatan Tionghoa asli, tapi tak banyak yang halal, maka pedagang Tionghoa lain membuat versi halalnya tentu saja harganya lebih mahal dan otentik + ditambah kualitas pelayanan, dengan begitu pelanggan mereka tersegmentasi sendiri dan mereka juga menggaet jenis pelanggan tertentu, salah satu kiat bisnis sukses adalah kemampuan menjawab kebutuhan konsumen.
Saat ini saya tinggal di kota dimana banyak peranakan Tionghoa, dan kedai makan Tionghoa disini telah berakulturasi dengan budaya melayu setempat, menghasilkan kedai sarapan populer yang disebut Kopitiam.
Ada puluhan kopitiam, beberapa diantaranya sudah ada sejak jaman awal kemerdekaan. Kopitiam ini juga memiliki banyak segmen, ada kedai kecil, harga menu tidak terlalu mahal tapi enak, ada juga sudah terkenal patokan harganya sama seperti di Mall, biasa pelanggannya adalah pegawai negeri, kaum menengah. Banyak juga kedai Kopitiam yang rasanya mengecewakan dan berharga murah, atau yang hari ini enak besok biasa aja banyak juga yang begitu.
Sudah menjadi kebiasaan untuk menyambut tamu atau kolega penting dengan sarapan di salah satu Kopitiam yang paling terkenal di tempat ini.
Ada harga ada kualitas, dan kelebihan kedai yang dikelola oleh orang Tionghoa adalah pelayanan yang baik dan kualitas rasa yang konsisten bahkan setelah bertahun-tahun beroperasi. Tidak mengherankan bahwa mereka mematok harga yang lebih tinggi.