Mungkin ada, tetapi tidak diucapkan.
Sebenarnya, suami saya sangat baik. Dia benar-benar baik. Dia bahkan memperlakukan saya dengan baik. Dia memiliki kemampuan untuk melakukan segala hal, seperti memasak dan membersihkan rumah, dan dia tidak pernah bicara dengan kasar, terutama tentang KDRT.
Namun, tepat saat pernikahan hampir memasuki tahun. Ada kejadian yang membuat saya sulit memaafkannya. Jujur saja, ini berkaitan dengan kelainan seksualnya. Karena saya tidak tahu apa itu berhubungan seks dari hari pertama menikah. Dia mencoba beberapa kali, tetapi “anu” nya tidak berhasil.
Dan sampai pada akhirnya semua terkuak. Setelah saya mulai curiga dengan handphonenya. Setelah saya selidiki dia ternyata lebih tertarik kesesama jenis. Hancurrrrrrr sekali hati saya, tapi saat itu sebelum semua bukti terkumpulkan saya hanya bisa menahan diri dan menangis dalam diam. Saat itu saya hanya memandangi punggungnya saja dari belakang dan berdoa semoga dia bisa berubah dan saya jadi kasihan dengan dirinya, apa yang dia lalui sehingga dia bisa terjebak disana.
Setelah semua bukti dikumpulkan, saya pergi tanpa sepengetahuannya. Saat dia menanyakan lokasi saya, saya tidak menjawab. Karena keinginan saya untuk menghindari orang tua saya, kakak saya adalah satu-satunya orang yang mengetahui masalah ini.
Saya introgasi di tempat itu setelah dia mengetahui keberadaan saya. Pernahkah Anda berhubungan seks? Dia menolak. Dia menjelaskan bahwa itu hanyalah percakapan iseng. Itu membuat saya tertawa. Mana ada iseng berbicara dengan akun gay dan menanyakan tempat tinggal dan ingin difoto juga? Hati saya sangat sakit. Sangat sakit.
Saat pertemuan itu, dia bertanya ke saya. Saya maunya gimana? Saya jujur saja, sedikit ragu untuk bercerai. Karena pernikahan masih seumur jagung. Tapi saat itu saya jawab “cerai”. Tapi dia tidak mau cerai. Dia meminta maaf, bersujud di kaki saya dan juga menangis. Tapi akhirnya karena saat itu saya sangat yakin dia berubah akhirnya saya maafkan. Dan kami pulang ke rumah.
Saya benar-benar mengalami perubahan dan trauma setelah kejadian itu. Saya sering marah karena saya jarang marah. Setiap kali saya dan suami keluar, saya selalu memperhatikan kebiasaannya, takut dia melirik pria tampan. Saya bahkan merasa jijik untuk disentuhnya, benar-benar jijik. Selain itu, saya selalu meringis dengan wajah jijik setiap kali melihatnya. Tapi saya sudah berkomitmen untuk memaafkan dia dan percaya dia bisa berubah, dan terkadang saya sedih karena saya bisa marah padanya dan berpikir, “Dia sudah baik ke saya, memanjakan saya tapi saya selalu memarahinya.” Saya akhirnya mencoba mengatasi situasi.
Lalu, di tahun kedua pernikahan kejadian yang sama terjadi lagi. Yup, saya menemukan history pencarian googlenya mengenai akun twitter gay lagi. Sedih? Sedih sekali. Marah? Sudah jelas. Sebelumnya mengenai hubungan intim, masih sama tidak ada perkembangan. Saya tidak tahu bagaimana rasanya saat bersenggama hingga menuju kepuasan masing2.. Dan sebelumnya juga sebelum kejadian ini terulang saya dan dia berhubungan intim dengan kondisi saya menangis dalam hati. Dan kejadian kedua terulang semakin membuat saya sedih. Kasus kedua ini tidak satupun kakak saya yang beri tahu. Karena memang setelah dari kasus pertama saya yang berkomitmen untuk tidak cerai. Jadi saat ini terulang saya hanya memendam sendiri, dengan tambahan trauma dan terkadang setiap tidur terbangun di tengah malam dan menangis terisak2. Dia, kembali berusaha untuk meminta maaf dan meyakinkan saya untuk tidak mengulanginya kembali. Apakah saya memaafkannya? Ya tentu (bodoh kan). Karena keyakinan saya dia pasti bisa berubah.
Namun, dengan peristiwa yang berulang ini, saya menjadi lebih baik. Batin saya benar-benar tertekan. Untuk setiap kegagalan hubungan intim saya, dia selalu mengutuk dirinya. Tidak ada lagi pertanyaan yang bertanya kepada saya, “kapan Anda punya anak?” Saya selalu membatin untuk bercerai setiap kali saya melihatnya. Setiap kali saya melihat sesuatu yang tajam, saya masih memikirkan untuk mencederai perut saya, bahkan setelah kejadian kedua itu. Meskipun tekanan yang saya rasakan semakin kuat, saya hanya bisa meredamnya. Saya dipandang kuat oleh orang-orang, dan pernikahan kami dipandang tenang. Tekanan batin itu membuat saya sedikit mencela dirinya, terutama dalam hal gaji. karena, sejujurnya, kami bekerja sama. Gaji kami hampir identik. Tapi sejak menikah, saya merasa sulit untuk mengatur keuangan gaji sendiri karena saya hanya membantunya membayar ini dan itu. Pada saat itu rasanya juga berat bagi saya untuk mengeluarkan uang. Padahal uang dia sendiri juga habis untuk cicilan rumah kami. Tapi mungkin karena trauma dan tekanan batin saya jadi merasa tidak ikhlas dengan uang saya yang juga ikut keluar. Apalagi gaji saya dan suami sama2 kecil.
Belum lagi saya memikirkan apakah saya bisa punya anak? Usia saya sudah termasuk tua. Dan bahkan semua saudara kandung saya yang menikah lalu tidak lama dari menikah langsung hamil. Saya sangat iri. Masih sama, setiap berhubungan intim hati saya menangis. Padahal saya tau dia berusaha untuk membuat “anunya” on dengan berbagai cara. Segala pil kuat diminum bahkan sampai kopi (saya lupa merknya) juga dia minum. Jujur, saya sedih sekali. Setiap mencium bau kopi diseduh, saya jadi merasa jijik. Karena walaupun sudah minum kopi itu bahkan 2 sachset tetap saja saat akan dimasukkan langsung lemas kembali.
Di sela-sela kegiatan sehari2 saya, selalu membayangkan untuk cerai, cerai dan cerai. Saya sempat membandingkan pernikahan orang lain dengan saya. Saya juga sempat membayangkan bagaimana jika saya cerai dengannya dan single seumur hidup apakah saya akan tetap bahagia? Tapi saya juga belum bisa untuk bercerai dengannya karena jujur saja lelaki yang sangat baik seperti dia bahkan mau menbantu segala urusan rumah tangga sangat sulit ditemui. Akhirnya saya sudah tidak memikirkan apa2 lagi. Saya sudah pasrahkan ke dia kalau dia ingin mengulangi lagi saya sudah akan bodo amat. Yang penting kehidupan saya bahagia tidak ada beban. Untuk urusan seks? Ya sudah, saya tidak terlalu menghiraukan. Untuk urusan anak? Ya sudah saya juga tidak apa2 tidak punya keturunan. Saat itu saya benar2 merubah pikiran saya. Bagi saya selagi dia bisa membahagiakan saya itu sudah cukup. Tapi, jangan disangka kami tidak mencoba untuk tetap punya anak ya. Kami tetap berusaha. Seks gagal? Ya masih bisa dicoba lagi. Dan juga setelah kejadian kedua ini dia bersungguh2 untuk berubah. Dan saya tidak pernah lagi membatin untuk bercerai dengannya.
Lalu, di tahun ke 4 pernikahan. Saya dinyatakan garis 2 alias positif hamil. Bagaimana saya bisa hamil? Ya tentunya dengan perjuangan dia. Perjuangannya konsumsi kopi kuat itu. Mengajak saya HB setelah selesai mens. Saya sendiri sebenarnya sudah pasrah mau ada anak atau tidak saya tidak peduli. Tetapi disaat pasrah itulah, Alhamdulillah Allah berikan mukjizat. Karena kami memang tidak ada promil sama sekali. Dan saat ini usia kandungan sudah mendekati HPL. Dan Alhamdulillah juga saya dan dia jadi bisa mengubah stigma kakak2 saya yang mungkin berpikir suami saya tidak akan bisa menghamili saya.
Doakan ya semoga HPL lancar, dan pernikahan kami selalu langgeng.