Sebagai ibu dari seorang anak nerd (yang satu lagi belum kelihatan tanda – tandanya), saya tertarik menjawab ini.
Anda harus memahami kurikulum les coding anak dan alasan pentingnya memasukkannya.
Saya pikir istilah “coding” telah disalahgunakan. Padahal, profesional IT tidak hanya membuat kode.
(Kok tau? Ya iya lah, kan suami saya salah satunya).
Masih banyak bidang dan ketrampilan lain dari field teknologi yang bisa dipelajari dan basis ilmunya mungkin lebih penting diajarkan di usia dini. Saya pernah menulis di sini mengenai beberapa mainan anak saya.
Jawaban Amy Iljas Riz untuk Apa satu mainan anak-anak “zaman now” yang mind blowing?
Hanya satu dari sekian banyak mainan anak kami yang betulan menjadi dasar coding profesional, lainnya hanya fokus di logika dan berpikir kreatif.
Saya sering aplod beberapa soal latihan Matematika anak kami yang masih kelas 3 SD di Instagram, karena excited dengan pengajarannya yang lumayan berbeza dengan apa yang diajarkan di Indonesia waktu jaman saya dulu. Saya berharap Indonesia juga memakai cara seperti ini sekarang.
Saat saya SD, anak anak harus hapal berapa 9×9, 6×7, dan sejenisnya, sampai ada poster yang ditempel di dinding kamar saya dan harus diingat sebelum ujian. Nah saat ini sebagai orangtua murid, saya tidak mendapati hal seperti itu dalam pengajaran di sini. Si anak fokus diajarkan konsep kenapa 9 x 9 = 81.
Berikut beberapa tangkapan layar materi Matematika dasar anak kami.
Keterangan: Lihat cara perhitungannya. Simpel tapi mudah dimengerti. E = einer (satuan), z = Zehner (puluhan), H = Hunderter (ratusan).
Gambar dari: Tangkapan layar pribadi. Mengenal bentuk simetris.
Anak saya sudah sekitar 2 tahun kursus coding, dan yang diajarkan awalnya hanya permainan berbasis reasoning. Jadi, jika pilihannya kursus coding atau joget untuk Tiktok di rumah, tentu saja kursus lebih baik. Tapi kalau kursus karena berharap langsung seperti programmer, saya sarankan untuk buka Khan Academy dan mensupervisi pengajaran Matematikanya dahulu agar lebih mudah ke depannya.
Gambar dari: Meme sendiri dong, hehe..
Lebih baik stimulasi dulu dengan mainan puzzle, sering berdiskusi kritis, dan membuat bangunan atau sebuah bentuk dari Lego. Lalu mengajarkan konsep dasar Matematika, baru deh kursus buat kode.
Mungkin sekarang profesi programmer sedang naik daun, tapi siapa tahu 25 tahun ke depan sudah tidak relevan dan butuh profesi lain. Dengan belajar konsepnya, anak Anda akan lebih mengerti how to get around, dibandingkan fokus mengejar satu hal saja (si coding tersebut).
Kami sendiri memasukkan anak pertama ke kursus coding karena memang bakatnya sangat teknikal, lebih baik diarahkan untuk mengenal bermacam macam spesifikasi di bidang teknologi, tetapi bukan karena ingin membuatnya menjadi programmer. Anak kami juga les seni (menggambar, prakarya, dan sebagainya) karena otak tekniknya harus diseimbangkan dengan kreativitas. Begitu saran guru – gurunya. Dan secara keseluruhan bagi saya, yang terpenting adalah si anak harus memiliki empati dan sifat kritis.
[1]
P.S Les klasik jaman saya kecil seperti piano, berenang, tenis, dan sejenisnya juga masih relevan kok, apa pun itu yang meningkatkan survival skills si anak saya rasa cukup baik diajarkan tanpa harus melihat tren atau tidak
[2]
Catatan Kaki
Jawaban Amy Iljas Riz untuk Apa hal yang paling kamu tunggu-tunggu untuk ajarkan pada anakmu?
[2]