Berkaitan dengan cara mendapatkan beasiswa studi ke Jepang, penting untuk menjelaskan lebih detail mengenai jenjang studi yang Anda cari, serta latar belakang atau jurusan yang akan diambil. Hal ini berkaitan dengan berbagai jenis beasiswa, persyaratan yang berbeda, dan manfaat yang akan diterima (yang berbeda-beda dari satu beasiswa ke beasiswa lainnya). Berdasarkan informasi yang saya temukan, ada beberapa situs web yang menyediakan daftar beasiswa yang dapat dipilih oleh mahasiswa, lengkap dengan penjelasan persyaratan dan manfaat yang akan diperoleh.
Namun, agar langkah Anda ke depan menjadi lebih mudah, ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang awal mencari beasiswa di Jepang, yaitu:
- Pelajari dengan baik jenis-jenis beasiswa yang akan Anda pilih. Tujuannya adalah untuk memahami lebih dalam tentang beasiswa yang akan Anda pilih. Dari situs yang telah saya berikan, terdapat beberapa jenis beasiswa yang berasal dari pemerintah Jepang, dan ada juga yang berasal dari instansi swasta. Penting untuk mengenali apakah beasiswa yang Anda targetkan memiliki persyaratan terkait ikatan kerja setelah lulus atau penggunaan beasiswa. Selain itu, perlu dipertimbangkan dengan matang apakah beasiswa ini akan cukup untuk membiayai hidup Anda di sana sampai lulus. Hal ini dikarenakan tidak semua beasiswa men-cover seluruh biaya studi, sehingga Anda mungkin perlu mencari tambahan beasiswa atau membiayai sisanya secara mandiri.
- Pahami persyaratan yang diperlukan, seperti berkas yang harus disiapkan, batasan usia, dan latar belakang studi. Hal ini penting untuk dipahami karena terkadang kampus di Jepang atau instansi yang memberikan beasiswa memiliki persyaratan yang cukup ketat. Misalnya, Anda mungkin diharuskan untuk menerjemahkan dokumen-dokumen Anda ke dalam Bahasa Jepang, dan jika Anda tidak melakukannya, kemungkinan besar berkas Anda tidak akan diproses atau tidak akan menjadi kandidat yang kuat. Selain itu, kurangnya dokumen pendukung yang dapat memperkuat posisi Anda, atau lupa mencantumkan salah satu berkas penting, juga dapat berdampak fatal. Hal ini setara dengan tidak memenuhi persyaratan batasan usia untuk menjadi kandidat (umumnya 30 tahun untuk S2 dan 35 tahun untuk S3) atau salah memasukkan latar belakang studi yang diinginkan (misalnya ingin mendaftar jurusan Fisika murni di Universitas A namun berasal dari jurusan Hukum di kampus sebelumnya).
- Survei terkait kampus yang akan Anda tuju di masa depan. Biasanya, salah satu persyaratan untuk mengajukan beasiswa di Jepang adalah memiliki pemahaman tentang kampus mana yang akan menjadi tempat Anda mengejar impian Anda. Penting untuk diingat bahwa seperti di Indonesia, di Jepang juga terdapat kampus negeri dan swasta, sehingga perlu hati-hati dalam memilih. Siapkan setidaknya tiga atau lebih kandidat kampus yang telah Anda teliti dengan baik terkait dengan keberadaan jurusan yang Anda cari, serta pertimbangkan aspek-aspek berikut ini. Pertimbangkan juga posisi kampus secara global, baik dalam hal lingkungan studi, penelitian, maupun keberagaman, yang dapat mempengaruhi kehidupan kampus Anda jika tidak memilih dengan hati-hati dari awal.
- Lakukan survei terkait calon pembimbing jika Anda mencari studi S2 atau S3. Hal ini sangat penting, karena selain mengetahui kampus mana yang akan Anda pilih, Anda juga perlu tahu dengan siapa Anda akan bekerja ketika menjadi mahasiswa di sana. Sistem kuliah di Jepang umumnya terdiri dari kombinasi mata pelajaran dan riset. Ketika Anda masuk ke kampus yang dituju, Anda tidak langsung menjadi mahasiswa penuh, tetapi sebagai “research student” untuk memahami lingkungan riset dan sekolah di kampus tersebut. Oleh karena itu, memiliki seorang pembimbing (calon) akan memperkuat posisi Anda sebagai kandidat terpilih, terutama jika Anda telah menjalin komunikasi yang baik dengan pihak kampus dan pembimbing tersebut.
- Lakukan pengecekan mengenai adanya penerima beasiswa di kampus yang dituju, atau secara umum (terkait dengan alumni penerima beasiswa). Ini mirip dengan mahasiswa Indonesia yang akan mendaftar beasiswa LPDP dan aktif berpartisipasi dalam sesi diskusi dengan para alumni penerima beasiswa terkait. Saya bukan penerima beasiswa Jepang, tetapi setidaknya saya tahu persiapan yang diperlukan saat mendaftar beasiswa, yang didapatkan dari seorang alumni penerima beasiswa di Jepang. Dengan bertanya dan berdiskusi kepada mereka, mungkin ada informasi baru tentang beasiswa tersebut, serta tips & trik yang hanya diketahui oleh orang dalam mengenai beasiswa tersebut.
- Siapkan dana yang diperlukan untuk mengurus berkas persyaratan pendaftaran beasiswa. Seperti yang sudah dibahas banyak orang, mendaftar beasiswa bukanlah hal yang mudah dan tidak gratis atau murah secara mutlak. Setidaknya ada biaya yang harus dibayar dan dipersiapkan, baik sebelum mendaftar, saat menjadi kandidat, maupun saat menuju ke kampus nantinya sebelum resmi berkuliah di sana. Sebagai contoh, untuk mendapatkan sertifikat kemampuan bahasa (IELTS, TOEFL, TOEIC, JLPT), tidak cukup hanya dengan modal di bawah satu juta (belum termasuk biaya persiapan dan akomodasi jika lokasi tes di luar kota asal). Selain itu, jika diminta mengirimkan berkas sebagai syarat pendaftaran, juga bukan hal yang murah secara umum, terutama jika kampus yang meminta pengiriman. Contoh lainnya adalah jika Anda menjadi penerima beasiswa, ada beberapa jenis beasiswa yang menerapkan reimbursement, yang berarti Anda harus membayar semua biaya terkait perkuliahan seperti pengurusan visa dan tiket penerbangan ke Jepang sampai ke kampus, dan kemudian pemberi beasiswa akan menggantinya.
Dari penjelasan yang telah saya berikan sebelumnya, saya harap bagi Anda yang bertanya secara khusus, serta mahasiswa yang mencari studi lanjut di Jepang pada umumnya, untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan dengan matang mengenai peluang berkuliah di sana. Jangan pernah tergoda oleh ajakan atau rayuan dari beberapa orang yang mungkin akan membawa Anda ke jalan yang salah. Jika ada yang mengatakan “beasiswanya sangat berharga karena Anda bisa mendapatkan sekitar 140.000 Yen (setara dengan 15 juta rupiah), belum lagi bisa berkeliling Jepang dengan biaya murah, dst”, perlu ditekankan bahwa 15 juta tersebut belum termasuk biaya dari A-Z, terutama jika Anda kuliah di kampus yang berada di kota besar seperti Tokyo, Osaka, atau Kyoto, uang sebesar itu mungkin hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari atau bahkan kurang. Anda juga perlu mempertimbangkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, banyak berita yang memberikan peringatan mengenai masalah inflasi di Jepang, yang berarti harga berbagai hal di sana akan naik secara signifikan, sementara uang beasiswa atau tunjangan Anda mungkin hanya cukup untuk bertahan hidup (tidak bisa ditabung, diinvestasikan, atau minimal dikirimkan kepada orang tua di Indonesia).